top of page

Ketika Kesalahan Bukan Lagi Pelajaran, Tapi Hobi

Apr 4, 2025

2 min read

1

78

0

Ada banyak hal di dunia ini yang gak bisa dijelaskan pakai logika. Kayak kenapa kucing suka duduk di kardus padahal udah dibeliin kasur mahal. Atau kenapa lo rela balikan sama mantan yang dulu selingkuh. Bukan cuma sekadar keputusan buruk, ini lebih ke eksperimen sosial dengan diri lo sendiri sebagai kelinci percobaan.


Sebodoh-bodohnya keledai, dia gak bakal jatuh di lubang yang sama dua kali. Tapi ya, mungkin kita harus update pepatah itu, karena ternyata ada spesies lain yang lebih penasaran sama lubang yang sama. Siapa tahu kali ini lebih empuk? Lebih nyaman? Atau mungkin, lebih dalam biar sekalian tenggelam?


Yang bikin makin absurd, keputusan ini udah dikasih red flag dari segala arah. "Mamanya aja udah gak suka." Biasanya, kalau ibu udah bilang "Jangan!", itu lebih sah daripada tanda larangan parkir. Tapi ya gitu, masih aja ada yang mikir, "Ah, mungkin kali ini beda." Padahal, beda agama aja udah cukup jadi pertanda semesta buat gak lanjut.


"Kalau hidup ini kayak main video game, ini udah jelas momen 'Are you sure? This action cannot be undone.'" Tapi tetep aja, tombol "YES" diteken dengan penuh percaya diri, seakan-akan plot twist bakal beda dari sebelumnya. Padahal, skripnya udah jelas: mulai manis, terus ada tanda-tanda aneh, makin toxic, lalu bubar dengan cara yang sama.


Kadang gue mikir, mungkin beberapa orang gak mau belajar dari kesalahan. Tapi ini bukan sekadar gak belajar, ini kayak sengaja beli tiket VIP buat nonton tragedi yang sama, di kursi yang sama, dengan popcorn basi yang sama. Skenario endingnya pun udah ketebak, tapi tetap berharap filmnya ganti genre di tengah jalan.


Orang sering bilang, cinta itu buta. Tapi kalau butanya segini, ini bukan cinta, ini lebih ke gangguan penglihatan serius yang butuh ditangani segera. "Mungkin bukan kacamata yang lo butuhin, tapi GPS kehidupan yang bisa ngingetin: 'Arah yang lo tuju sebelumnya sudah terbukti gagal. Tolong pertimbangkan rute lain.'", "Arah yang lo tuju sebelumnya sudah terbukti gagal. Tolong pertimbangkan rute lain."


Dan saat hari itu tiba, gue cuma bakal senyum tipis, inget lagi waktu lo bilang kita nggak selevel, lalu nutup layar. Lucu juga, dulu gue sempet percaya. Tapi ternyata, yang katanya 'di atas' malah muter di tempat yang sama. Kadang, beberapa orang terlalu sibuk ngejar sesuatu yang udah jelas nggak bakal bertahan, sampai nggak sadar kalau mereka sendiri yang sebenarnya nggak pernah naik level.

Apr 4, 2025

2 min read

1

78

0

Related Posts

Comments

Share Your ThoughtsBe the first to write a comment.
bottom of page